Rachmat Gobel, tokoh Gorontalo, pengusaha nasional, dan anggota DPR RI, wafat pada Jumat dini hari, 10 Juli 2026, sekitar pukul 03.20 WIB di Rumah Sakit Brawijaya, Tebet, Jakarta Selatan. Ia dimakamkan pada hari yang sama di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

Rachmat Gobel lahir di Gorontalo pada 3 September 1962. Kabar wafatnya langsung memicu duka luas, dari keluarga, rekan politik, hingga warga Gorontalo di kampung halaman maupun perantauan.

Keranda khas adat Gorontalo

Prosesi pemakamannya memakai tradisi adat Gorontalo. Salah satunya penggunaan keranda khas Gorontalo dengan penutup yang lebih tinggi dari keranda yang biasa dijumpai di Jakarta.

Putra almarhum, Mohammad Arif Gobel, menjelaskan alasannya.

“Itu memang dari asal kami dari Gorontalo, dan almarhum itu menjunjung tinggi adat Gorontalo dan kami keluarga juga pasti melestarikan terus adat-adat Gorontalo,” ujar Arif.

Karena ukuran kerandanya lebih besar, jenazah dibawa menggunakan truk, bukan mobil jenazah.

Kenangan Jusuf Kalla

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla bersama istrinya, Mufidah Jusuf Kalla, hadir langsung di pemakaman. JK menyebut Rachmat Gobel mirip dengan dirinya: pengusaha sekaligus politisi.

“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Pak Rahmat ini orang yang sangat baik, ramah, dengan background sebagai pengusaha juga sebagai politisi, hampir sama dengan saya, pengusaha-politisi atau politisi-pengusaha,” ujar JK.

“Tentunya sangat berjasa, beliau berteman dengan semua orang, dan memahami masalah, dan sangat ramah, itu ciri beliau. Dan selalu rajin dan tepat waktu untuk menghadiri acara-acara, dan baik untuk semua orang,” lanjutnya.

JK juga menilai wawasan almarhum luas karena lama bersekolah di luar negeri.

Warisan untuk Gorontalo

Bagi warga Gorontalo, Rachmat Gobel dikenal sebagai putra daerah yang sukses di tingkat nasional, baik di dunia usaha maupun politik. Beberapa pekan sebelum wafat, ia baru saja kembali dilantik memimpin DPW Partai NasDem Gorontalo dan mengajak kader membangun dari desa.

Keputusan keluarga memakai keranda adat di pemakaman nasional menjadi pesan terakhir yang kuat: sejauh apa pun seseorang melangkah, identitas daerah tetap dibawa hingga akhir.

2 min read