Di perairan Desa Religius Bongo, tersembunyi sebuah spot diving yang belum tersentuh kerusakan akibat aktivitas manusia. Mantan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad menjajalnya pada Minggu (24/2/2019) atas rekomendasi pro diver Mr. Yance. Ia takjub menemukan terumbu karang besar yang masih utuh, ikan-ikan berukuran besar, dan ekosistem bawah laut yang terjaga sempurna. "Belum kena bom, belum ada karangnya yang rusak. Karangnya besar-besar dan panjang. Pokoknya sangat indah," paparnya. Spot yang belum bernama ini diusulkan diberi nama Walima, merujuk pada festival tahunan yang rutin digelar di desa tersebut.

Fadel Muhammad mencatat bahwa wisatawan dari Jepang, Malaysia, dan mancanegara lainnya sudah berulang kali mengunjungi lokasi ini. Keberadaan spot diving pristine seperti Walima adalah aset langka di tengah degradasi terumbu karang global. Ia menekankan bahwa jika pariwisata bahari Gorontalo dikelola serius, pendapatan daerah akan meningkat signifikan. "Akan banyak wisatawan yang bakal berkunjung ke Gorontalo jika benar-benar dikelola dengan wisatanya," tandasnya. Pesan utamanya jelas: konservasi adalah prasyarat mutlak bagi keberlanjutan ekonomi pariwisata.

Usulan nama Walima untuk spot diving ini bukan sekadar pelabelan, tetapi strategi branding yang mengaitkan destinasi bahari dengan identitas budaya lokal. Ketika nama spot diving terhubung dengan festival adat, narasi yang terbangun bukan hanya tentang keindahan alam, tetapi juga tentang komunitas yang menjaganya. Fadel mengingatkan pemerintah daerah untuk berperan aktif dalam perlindungan, karena sekali terumbu karang rusak, pemulihan membutuhkan puluhan tahun dan biaya yang tidak sedikit.

Temuan spot diving perawan di Bongo adalah pengingat bahwa Gorontalo masih menyimpan harta karun bahari yang belum tereksplorasi. Namun, kekayaan ini rapuh terhadap eksploitasi dan kelalaian. Kisah kekaguman Fadel Muhammad seharusnya diterjemahkan menjadi kebijakan konservasi yang ketat sebelum promosi massal dilakukan. Pariwisata bahari berkelanjutan dimulai dari kesadaran bahwa keindahan bawah laut adalah titipan yang harus dijaga, bukan komoditas yang boleh dieksploitasi tanpa batas demi keuntungan jangka pendek.

Diving GorontaloSpot WalimaFadel MuhammadBongoTerumbu KarangWisata BahariKonservasi LautEkowisata
FacebookThreadsWhatsAppX
2 min read