Wajah Kota Limboto berubah sejak Taman Budaya hadir sebagai ikon baru yang menyedot perhatian warga. Pemerintah Kabupaten Gorontalo mengucurkan dana total Rp6 miliar dari APBD dalam dua tahap untuk mewujudkan ruang publik ini. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Syamsul Baharuddin menjelaskan pembangunan dimulai pada 2018 dengan anggaran tahap pertama Rp3 miliar sebagai komitmen Bupati Nelson Pomalingo mengembangkan wisata ibu kota kabupaten. Tahap kedua pada 2019 menambahkan alokasi Rp3 miliar untuk air mancur dan renovasi rumah adat.
Sudah bisa dilihat sekarang hasilnya. Meski belum rampung 100 persen, jumlah pengunjung yang datang ke sini sudah membludak. Kita tinggal komitmen dalam perawatannya nanti, tutur Syamsul. Tahun berikutnya, taman budaya akan diperluas lagi melalui tahap ketiga berupa pembangunan food court di lokasi eks Toko Agung yang saat ini digunakan untuk PAUD. Gedung PAUD nantinya menempati Gedung Martin Liputo yang sedang dikerjakan dan diproyeksikan menjadi gedung sekolah PAUD terbesar di Indonesia Timur.
Transformasi ruang terbuka ini menunjukkan bagaimana investasi publik dapat mengubah dinamika sosial kota. Ketika warga memiliki tempat berkumpul yang nyaman dan estetis, interaksi sosial meningkat dan ekonomi lokal di sekitarnya ikut bergerak. Food court yang direncanakan bukan sekadar tambahan fasilitas, tetapi strategi menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan di dalam kawasan taman.
Tantangan terbesar kini bergeser dari pembangunan fisik ke pemeliharaan jangka panjang. Antusiasme pengunjung yang membludak adalah modal sosial yang berharga, namun tanpa perawatan konsisten, infrastruktur yang dibangun dengan anggaran besar bisa cepat menurun kualitasnya. Komitmen perawatan yang disebut Syamsul adalah kunci agar Taman Budaya Limboto tidak hanya menjadi kenangan manis di awal pembukaan, tetapi tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
