Duka atas kepergian Presiden ke-3 RI BJ Habibie terasa begitu personal bagi masyarakat Gorontalo, bukan sekadar kehilangan tokoh nasional. Gubernur Rusli Habibie mengaku tersentuh melihat ketulusan warga yang menggelar zikir, shalat gaib, dan tahlil di berbagai masjid maupun instansi sejak almarhum dirawat hingga memasuki hari ketujuh wafatnya. "Saya membaca dan juga melihat pemerintah daerah menggelar zikir, doa dan lain-lain. Semoga amal baik bapak/ibu sekalian mendapatkan imbalan yang setimpal," tutur Rusli.
Meski lahir di Parepare, BJ Habibie memiliki akar darah Gorontalo dari sang ayah, Alwi Abdul Jalil Habibie. Ikatan emosional inilah yang membuat banyak orang tua di Gorontalo mendoakan anak-anaknya agar bisa meneladani sosok Eyang Habibie. Warisan nyata beliau pun masih bisa dirasakan hingga kini melalui MAN Insan Cendekia yang didirikan tahun 1996, sebuah institusi pendidikan unggulan yang memadukan iptek dan imtaq sebagai bukti cinta beliau pada pencerdasan bangsa.
Ucapan terima kasih Rusli mewakili keluarga besar Habibie menegaskan bahwa Gorontalo tidak pernah menganggap almarhum sebagai tamu, melainkan sebagai putra daerah yang pulang ke haribaan semesta. Bendera setengah tiang dan lantunan doa yang menggema di kampung-kampung adalah cara paling sunyi namun paling dalam untuk menghormati seorang genius yang hatinya selalu tertaut pada tanah leluhur ayahnya.
