Dodol mulai dimasak warga Desa Kaliyoso, Kecamatan Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo, menjelang perayaan Lebaran Ketupat. Salah satunya keluarga Rasyid Patamani, yang sudah mulai membuat dodol sejak Selasa, 24 Maret 2026, untuk perayaan ketupat pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Bagi warga Kaliyoso, membuat dodol sudah menjadi tradisi tahunan setelah Idul Fitri. Prosesnya panjang, melibatkan banyak orang, dan hasilnya dibagikan untuk tamu.

Bahan dodol khas Lebaran Ketupat

Rasyid menjelaskan bahan utamanya sederhana, tapi takarannya harus pas.

“Bahan-bahan seperti beras ketan, kelapa santan, dan gula merah. Beberapa penambah rasa seperti kacang dan durian juga sering digunakan untuk memberikan cita rasa yang lebih kaya dalam pembuatan dodol,” ujarnya saat diwawancarai pada Rabu sore, 25 Maret 2026.

Varian kacang dan durian membuat dodol buatan warga punya rasa yang lebih beragam, bukan sekadar manis legit.

Dimasak 7–8 jam

Yang bikin dodol istimewa adalah proses memasaknya. Butuh waktu 7 sampai 8 jam sampai adonan matang.

“Pembuatan dodol yang menakan waktu 7-8 jam juga menjadi tantangan sekaligus kesabaran tersendiri bagi para pembuatnya,” kata Rasyid.

Jumlah produksinya juga tidak main-main. Satu keluarga bisa membuat hingga 40 kilogram dodol, yang menghasilkan sekitar 400 sampai 800 bungkus tergantung ukuran kemasan.

Dikerjakan bersama tetangga

Membuat dodol bukan pekerjaan satu orang. Tetangga-tetangga ikut turun tangan membantu.

“Kegiatan ini melibatkan banyak orang, dengan tetangga-tetangga yang juga ikut berpartisipasi dalam pembuatan dodol,” ucap Rasyid.

Menurutnya, dodol tidak hanya sekadar makanan. Dodol menjadi simbol kebersamaan saat warga menggelar open house untuk menyambut siapa saja yang datang ke rumah mereka.

Dibagikan gratis untuk tamu

Dodol yang sudah jadi biasanya dibagikan secara gratis kepada tamu yang datang, sebagai bentuk sambutan hangat tuan rumah.

Tak heran dodol menjadi salah satu sajian yang paling dinanti saat Lebaran Ketupat. Tradisi ini bukan hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menjaga warisan kuliner yang sudah ada sejak lama.

Kalau berkunjung ke Dungaliyo saat Lebaran Ketupat, jangan heran kalau pulang membawa bungkusan dodol dari tuan rumah.

2 min read