Nasi bulu kembali dibuat warga Desa Hutabohu, Kecamatan Limboto Barat, untuk merayakan Lebaran Ketupat. Hidangan ini hanya dibuat satu hari dalam setahun, tepat pada hari perayaan ketupat.
Tradisinya sederhana tapi penuh makna. Keluarga dan warga sekitar ikut terlibat, lalu hidangan dinikmati bersama siapa saja yang datang.
Apa itu nasi bulu?
Nasi bulu dimasak dengan cara khas, yaitu memakai bambu (bulu) sebagai wadah. Bambu lebih dulu dilapisi daun pisang, lalu diisi beras yang sudah dibumbui.
Setelah itu, bambu dibakar sampai nasi di dalamnya matang. Teknik memasak ini dipercaya memberi rasa yang khas dan berbeda dari nasi biasa.
Dengan cara masak seperti ini, aroma bambu dan daun pisang ikut meresap ke dalam nasi. Itulah yang membuat nasi bulu terasa istimewa.
Terbuka untuk siapa saja
Narasumber bernama Amir menjelaskan, nasi bulu disiapkan untuk keluarga dan warga yang berkunjung. Siapa pun boleh datang dan menikmatinya, termasuk tamu yang menginap.
Menariknya, tradisi ini tidak diiringi acara formal atau doa bersama. Warga lebih menekankan kebersamaan dan keterbukaan. Siapa pun dipersilakan datang dan makan tanpa syarat.
Sikap terbuka ini menggambarkan kuatnya nilai kekeluargaan di tengah masyarakat Hutabohu.
Ratusan batang dalam sehari
Jumlah nasi bulu yang dibuat tidak pasti. Dalam sehari, jumlahnya bisa 200 hingga lebih dari 500 batang, tergantung jumlah keluarga dan tamu yang datang.
Menurut Amir, produksi tahun ini lebih banyak dibanding tahun sebelumnya, jadi tamu yang datang pun makin banyak yang kebagian. Ini menandakan partisipasi warga dalam menjaga tradisi justru makin tinggi.
Kuliner yang layak diburu
Karena hanya dibuat sekali setahun, nasi bulu Hutabohu termasuk kuliner langka. Kesempatan mencicipinya hanya datang saat Lebaran Ketupat.
Buat pencinta kuliner tradisional, momen ini bisa jadi alasan untuk berkunjung ke Limboto Barat. Selain mencicipi nasi bulu, kamu juga bisa merasakan hangatnya suasana kampung yang menyambut tamu dengan terbuka.
Tradisi seperti ini menunjukkan bahwa kuliner khas di Gorontalo tidak hanya soal rasa, tetapi juga cara warga merawat kebersamaan.

