Limboto Coffee Street kini jadi tempat nongkrong baru di Kabupaten Gorontalo. Deretan booth kopi milik UMKM berjejer di Taman Budaya Limboto, tepat di depan Kantor Bupati, dan ramai pengunjung seperti pada Rabu malam, 17 Desember 2025.
Padahal, kawasan ini dulu gelap, sepi, dan kerap dijadikan arena balap liar.
Awal mula Limboto Coffee Street
Pengelola kawasan, Roy Shandy Umar (45), bercerita perubahan dimulai saat pihaknya menemui Bupati Gorontalo Sofyan Puhi. Mereka menyampaikan kondisi lokasi yang tidak produktif.
Bupati lalu meminta agar kawasan itu diramaikan dengan kegiatan positif. Area tersebut kemudian diubah menjadi pusat booth UMKM. Pengajuan dilakukan pada 20 November, dan kawasan diresmikan bertepatan dengan HUT Gorontalo.
Semua pedagangnya warga setempat karena pengelola memprioritaskan UMKM lokal. Sebelum berjualan, setiap pelaku usaha didata terlebih dahulu. Hasilnya, balap liar hilang dan kawasan jadi lebih hidup.
Kata pengunjung
Nabila Priliani Kelo (21) dari Pulubala datang untuk mencari pengalaman baru. Menurutnya, harga sepadan dengan rasa, dan suasananya nyaman karena pencahayaannya tidak terlalu terang.
Candra Sudin (21) dari Hunggaluwa memilih tempat ini karena dekat rumah. Namun, ia sedikit keberatan karena lokasinya dulu merupakan jalan umum.
Fahmi Stion (25) dari Bolaang Mongondow menilai fasilitas masih kurang. Sebagai Taman Budaya, katanya, kawasan ini sebaiknya juga memperkenalkan budaya Gorontalo, bukan hanya diisi booth jualan.
Dari gabut jadi cuan
Salah satu pedagang adalah Fikriyansyah Tongkodu (23), pemilik Booth Coffee Recovery yang baru beroperasi dua minggu. Awalnya ia membuka usaha karena gabut, lalu berlanjut karena hasilnya lumayan.
Ia belajar meracik kopi secara otodidak lewat tutorial TikTok dan sering bertanya ke teman yang lebih berpengalaman. Modal persiapannya sekitar Rp5 juta, dengan booth milik sendiri dan pendaftaran sebagai UMKM resmi.
Menu andalannya coffee butterscotch dan pandan latte, ditambah green tea dan cokelat untuk yang tidak minum kopi. Ramainya biasanya pada malam Minggu dan malam Kamis.
Kisah Limboto Coffee Street membuktikan bahwa ruang kosong di kota bisa diubah menjadi tempat berkumpul yang aman sekaligus membuka peluang usaha bagi anak muda.

